Masalah-Masalah Dalam Belajar
Puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, atas karunia-Nya kamii dapat menyelesaikan makalah
ini.Meskipun penyusunan makalah ini belum begitu sempurna tetapi penulis
berusaha untuk menghasilkan yang terbaik. Makalah ini dibuat untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah “ Psikoilogi Belajar’’ dengan materi pembahasan tentang “Masalah-Masalah Belajar’’.
Makalah ini kami susun dengan tujuan
dapat membantu para mahasiswa, guru atau dosen menyiapakan perangkat alat
penilaian,baik yang digunakan sebagai penilaian proses belajar,maupun untuk
penilaian hasil belajar. Selain itu makalah ini diharapkan ikut membantu pembaca untuk lebih memhami dan mendalami kajian teoritis pada buku
sumber dan penunjang yang digunakan sehingga dapat terlatih serta mampu
berpikir kritis,analitis dan sistematis.
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga
Allah SWT membalas dengan limpahan karunia dan inayah-Nya
dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat.
Ciamis, Oktober 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan
Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Masalah-Masalah Belajar
B.
Faktor
Internal dan Eksternal
C.
Faktor
Pendekatan Belajar
D. Mengenal dan mengatasi kesulitan belajar siswa
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dunia pendidikan
mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang
dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar.
Masalah belajar yang terjadi di kalangan murid sering kali terjadi dan
menghambat kelancaran proses belajar siswa.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa
kelemahan-kelemhan dan juga dapat berkenaan dengan lingkungan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang
lambat saja dalam belajarnya,tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai
atau cerdas.
Masalah belajar adalah
suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses
yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan
Pembelajaran kelompok kami menyusun makalah Konsep Dasar Belajar dengan
Landasan Teologis dan Landasan Filosofisnya.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang dapat dirumuskan dari pemaparan di atas antara lain :
1.
Apa yang di
maksud dengan faktor internal dan eksternal ?
2.
Apa yang di
maksud dengan Faktor pendekatan belajar ?
3.
Bagaimana cara
mengatasi kesulitan belajar siswa ?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui faktor internal dan eksternal
2.
Untuk mengetahui faktor pendekatan belajar
3.
Untuk
mengetahui mengatasi kesulitan belajar siswa
Adapun manfaat penyusunan makalah ini bagi penulis ialah sebagai
media untuk menambah pengetahuan tentang masalah-masalah belajar.
Dan penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa untuk
menunjang materi perkuliahan belajar dan pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian
Masalah Belajar
Masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan
dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan
seseorang, dan ada pula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak
mengenakan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang
tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang
lain, ingin atau perlu dihilangkan. Sedangkan menurut pengertian secara
psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam
tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar ialah
sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Dari definisi masalah dan belajar maka masalah
belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut :
“Masalah belajar
adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran
proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan”.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan
keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan
dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah
belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam
belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
Dalam interaksi belajar mengajar siswa
merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang
dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan
belajar.
B.Faktor-Faktor Penyebab Masalah Belajar
Masalah-masalah belajar baik
intern maupun ekstern dapat dikaji dari dimensi guru maupun dimensi siswa,
sedangkan dikaji dari tahapannya, masalah belajar dapat terjadi pada waktu
sebelum belajar, selama proses belajar dan sesudahnya, sedangkan dari dimensi
guru, masalah belajar dapat terjadi sebelum kegiatan belajar, selama proses
belajar dan evaluasi hasil belajar. Masalahnya sering kali berkaitan dengan
pengorganisasian belajar.
1.Faktor
Internal
a.Ciri Khas/Karakteristik Siswa
Dapat dilihat dari kesediaan siswa
untuk mencatat pelajaran, mempersiapkan buku, alat-alat tulis atau hal-hal yang
diperlukan. Namun, bila siswa tidak memiliki minat untuk belajar, maka siswa
tersebut cenderung mengabaikan kesiapan belajar.
b.Sikap
terhadap Belajar
Sikap siswa dalam proses belajar,
terutama sekali ketika memulai kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk
diperhatikan karena aktivitas belajar siswa banyak ditentukan oleh sikap siswa
ketika akan memulai kegiatan belajar. Namun, bila lebih dominan sikap menolak
sebelum belajar maka siswa cenderung kurang memperhatikan atau mengikuti
kegiatan belajar.
c.Motivasi Belajar
Di dalam aktivitas belajar,
motivasi individu dimanfestasikan dalam bentuk ketahanan atau ketekunan dalam
belajar, kesungguhan dalam menyimak, mengerjakan tugas dan sebagainya. Umumnya
kurang mampu untuk belajar lebih lama, karena kurangnya kesungguhan di dalam
mengerjakan tugas. Oleh karena itu, rendahnya motivasi merupakan masalah dalam
belajar yang memberikan dampak bagi tercapainya hasil belajar yang diharapkan.
d.Konsentrasi Belajar
Kesulitan berkonsentrasi
merupakan indikator adanya masalah belajar yang dihadapi siswa, karena hal itu
akan menjadi kendala di dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan. Untuk
membantu siswa agar dapat berkonsentrasi dalam belajar tentu memerlukan waktu
yang cukup lama, di samping menuntut ketelatenan guru.
e.Mengelola Bahan Ajar
Siswa mengalami kesulitan di
dalam mengelola bahan, maka berarti ada kendala pembelajaran yang dihadapi
siswa yang membutuhkan bantuan guru. Bantuan guru tersebut hendaknya dapat
mendorong siswa agar memiliki kemampuan sendiri untuk terus mengelola bahan
belajar, karena konstruksi berarti merupakan suatu proses yang berlangsung
secara dinamis
f.Rasa Percaya Diri
Salah satu kondisi psikologis
seseorang yang berpengaruh terhadap aktivitas fisik dan mental dalam proses
pembelajaran adalah rasa percaya diri. Rasa percaya diri umumnya muncul ketika
seseorang akan melakukan atau terlibat di dalam suatu aktivitas tertentu di
mana pikirannya terarah untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkannya.
Hal-hal ini bukan merupakan bagian terpisah dari proses belajar, akan tetapi
merupakan tanggung jawab yang harus diwujudkan guru bersamaan dengan proses
pembelajaran yang dilaksanakan.
g.Kebiasaan Belajar
Adalah perilaku belajar seseorang
yang telah tertanam dalam waktu yang relatif lama sehingga memberikan ciri
dalam aktivitas belajar yang dilakukan. Ada beberapa bentuk kebiasaan belajar
yang sering dijumpai seperti, belajar tidak teratur, daya tahan rendah, belajar
hanya menjelang ulangan atau ujian, tidak memiliki catatan yang
lengkap, sering datang terlambat, dan lain-lain
h.Tingkat Kecerdasan Rendah
Walaupun tingkat kecerdasan
seorang siswa bkanlah nilai mutlak dan berubah-ubah, hal ini tetap saja dapat
menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan belajar. Tingkat kecerdasan atau
kemampuan dasar yang rendah bisa menjadi salah satu penyebab kesulitan belajar
pada diri siswa.
i.Kesehatan, Gangguan Fungsi Alat
Indera, dan Alat Perseptual
Kondisi tubuh yang sakit, kurang
gizi dan vitamin dapat menyebabkan kurang maksimalnya proses belajar. Begitupun
jika terjadi gangguan pada fungsi alat indera, seperti gangguan penglihatan dan
pendengaran yang dapat secara langsung menjadi penyebab terjadinya keslitan
dalam belajar. Hal yang sama juga dapat terjadi jika terdapat gangguan dalam
proses penafsiran pesan di otak (alat perseptual).
2.Faktor
Eksternal
a.Guru
Guru harus mengembangkan strategi
pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan informasi, melainkan juga mendorong
para siswa untuk belajar secara bebas dalam batas-batas yang ditentukan. Bila
dalam proses pembelajaran, guru mampu mengaktualisasikan tugas-tugas guru
dengan baik, mampu memotivasi, membimbing dan memberi kesempatan secara luas
untuk memperoleh pengalaman, maka siswa akan mendapat dukungan yang kuat untuk
mencapai hasil belajar yang diharapkan, namun jika guru tidak dapat
melaksanakannya, siswa akan mengalami masalah yang dapat menghambat pencapaian
hasil belajar mereka.
Menurut Lindgren, (1967 : 55)
bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab dengan murid,
menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau
murid menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri
muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri dalam diri murid. Melalui
contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki penilaian diri yang positif akan
ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga akan memiliki penilaian diri
yang positif.
Jadi jelaslah bahwa guru yang
kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan
merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau
kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar.
Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari
sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya.
Menurut Belmon dan Morolla (1971 : 107) menyimpulkan dari hasil penelitiannya,
bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak, mempunyai
keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari
keluarga yang jumlah anaknya sedikit.
b.Keluarga (Rumah)
Masalah-masalah dalam keluarga
dapat menyita pikiran dan konsentrasi anak untuk fokus dalam belajar, beberapa
diantaranya adalah;
-Keluarga tidak utuh atau kurang
harmonis.
-Sikap
orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
-Keadaan ekonomi.
-Harapan orang tua yang terlalu
tinggi
-Orang tua yang pilih kasih
c.Lingkungan Sosial (Teman Sebaya)
Lingkungan sosial dapat memberi
dampak positif dan negatif terhadap siswa. Tidak sedikit siswa yang mengalami
peningkatan hasil belajar karena pengaruh teman sebayanya yang mampu memberi
motivasi kepadanya untuk belajar.
d.Kurikulum Sekolah
Kurikulum merupakan panduan yang
dijadikan guru sebagai rangka atau acuan untuk mengembangkan proses
pembelajaran. Seluruh aktivitas pembelajaran, maka dipastikan kurikulum tidak
akan mampu memenuhi tuntunan perubahan di mana perubahan kurikulum pada sisi
lain juga menimbulkan masalah, yaitu :
-Tujuan
yang akan dicapai berubah
-Isi
pendidikan berubah
-Kegiatan
belajar mengajar berubah
-Evaluasi belajar
e.Sarana
dan Prasarana
Ketersediaan prasarana dan sarana pembelajaran berdampak
pada terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif. Terjadinya kemudahan bagi
siswa untuk mendapatkan informasi dan sumber belajar yang pada gilirannya dapat
mendorong berkembangnya motivasi untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.
Oleh karena itu sarana dan prasarana menjadi bagian yang penting untuk
tercapainya upaya mendukung terwujudnya proses pembelajaran yang diharapkan.
C.Faktor Pendekatan Belajar
Ragam pendekatan belajar menurut para ahli:
1.Pendekatan Hukum Jost
Menurut Robber (1988),salah satu asumsi yang mendasari
hukum Jost adalah siswa yang lebuh sering mempraktikan materi pelajaran lebih
mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang ia
tekuni.Berdasarkan asumsi Jost maka belajar dengan 2 jam selama 4 hari lebih
baik daripada belajar 4 jam selama 2 hari.
2.Pendekatan Ballard dan
Clanchy
Menurut Ballard dan Clanchy(1990),pendekatan belajar
siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan.Ada 2 macam
siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan:
a.Conversing:sikap
melestarikan apa yang sudah ada.
Siswa yang bersikap
seperti ini pada umumnya menggunakan pendekatan belajar produktif.
b.Extending:Sikap
memperluas
Siswa yang bersikap
extending biasanya menggunakan metode analitis,bahkan diantara mereka banyak
yang menggunakan pendekatan belajar yang lebih ideal yaitu pendekatan
spekulatif yang bukan hanya menyerap ilmu pengetahuan tetapi menggunakannya.
3.Pendekatan Biggs
Menurut hasil penelitian Biggs(1990),pendekatan belajar
siswa dikelompokan menjadi 3 prototipe:
a.
Pendekatan surface
b.
Pendekatan deep
c.
Pendekatan achieving
Biggs menyimpulkan bahwa
prototipe-prototipe pendekatan belajar tadi pada umumnya digunakan para siswa
berdasarkan motifnya, bukan karena sikapnya terhadap ilmu pengetahuan.
Siswa yang menggunakan surface misalnya, mau belajar
karena dorongan dari luar: Airin takut tidak lulus yang mengakibatkan dia malu.
Siswa yang menggunakan deep biasanya mempelajari materi
karena dia memang tertarik dan membutuhkannya. Bagi siswa ini lulus dengan nilai
baik adalah penting, tapi memiliki pengetahuan yang banyak dan bermanfaat
adalah lebih penting.
Sementara itu,
siswa yang menggunakan pendekatan achieving pada umumnya dilandasi oleh motif
ekstrinsik berciri khusus disebut Ego-Enhancement yaitu ambisi pribadi yang
besar dalam meningkatkan prestasi dengan cara meraih indeks prestasi
setinggi-tingginya. Siswa yang menggunakan pendekatan Achieving ini mempunyai
study skills dalam artian sangat cerdik dan efisien dalam mengatur waktu, ruang
kerja dan penelaahan isi silabus. Baginya kompetensi untuk merah nilai
tertinggi sangat penting sehingga ia sangat disiplin, rapi dan sistematis serta
berencana terus maju kedepan.
D.
Mengatasi Masalah
Kesulitan Belajar.
a.Berikan perintah yang terperinci. Karena anak-anak mengalami kesulitan belajar, guru perlu
mengulang atau memberikan perintah baru ketika tahap pelajaran berikutnya
dimulai.
b.Gunakan semua indera pada saat mengajar. Jika
perlu, tanyakan pada orangtua atau
guru lainnya, indera mana yang potensial bagi anak untuk dapat belajar dengan
maksimal.
c.Sebisa mungkin jangan ada gangguan di dalam
kelas, karena anak-anak ini
mudah terganggu. Gambar-gambar,
mainan, atau barang-barang
yang tidak diperlukan sangat berpeluang mengganggu konsentrasi mereka.
d.Sampaikan pelajaran dengan menggunakan contoh-contoh konkret. Anak yang mengalami kesulitan
dalam belajar akan memahami maknanya jika ia dapat melihat dan merasakan apa
yang dijelaskan.
e.Memperhatikan beberapa anak yang mengalami
kesulitan dalam belajar ini terlihat sangat aktif atau bahkan terlalu aktif.
Maka kita harus berusaha supaya anak ini terus berada di dekat kita. Kontak
fisik seperti merangkul atau memegang pundak bisa meningkatkan perhatian
mereka.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid
dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
Kesulitan
dalam pembelajaran atau belajar
merupakan suatu hal yang sering ditemui oleh para pendidik,terutama guru.
B.SARAN
Saran yang ingin penulis sampaikan
adalah jika terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini baik penulisan atau
susunan kata, kami harapkan agar pembaca dapat memakluminya karena kami masih
dalam tahap belajar.
Kritik dan saran akan kami terima dengan lapang dada.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber:Conny Semiawan,A.S.Munandar,
dan S.C.U
.
Munandar(1984).
anthycamurty.blogspot.com
Comments
Post a Comment