Siliwangi HMI” Renungan dan Pemikiran DDM

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah
sebuah organisasi mahasiswa tertua yang ada di Indonesia yang berdiri sejak 5
Februari 1947. Begitu lama berdirinya, sehingga HMI sudah banyak menghasilkan
para pemimpin bangsa yang menghiasi percaturan politik dan kebangsaan
Indonesia. Tidak dipungkiri HMI adalah organisasi yang bisa dikatakan sudah
menjadi miniature bangsa Indonesia pasca kemerdekaan sampai sekarang.
Menurut saya, konten dari buku ini esensinya adalah penulis mencoba
menghubungkan antara HMI dengan Prabu Siliwangi. Maksudnya untuk menghimpun
atau menginventarisasi wasiat-wasiat dan kebajikan-kebajikan dengan kearifan
Prabu Siliwangi dan pukukuh, pitutur
karuhun (nenek moyang) Sunda yang sekiranya diharapkan untuk diterapkan
dalam konteks kehidupan HMI.
Menurut Tjetje Hidayat Padmadinata (Tokoh Jawa Barat), ada dua prinsip
negarawan Sunda yang secara khas dan historis diwariskan leluhur-leluhur
Siliwangi, yakni protektif dan defensif. Dan Siliwangi adalah lambang
kepemimpinan (Kenegarawanan) yang mengabdi pada kepentingan umum bukan lambang
Kekuasaan. Hal inilah yang harus benar-benar dimaknai oleh seluruh khalayak
parahyangan, khususnya kader HMI.
Ada filosofi kesiliwangian yang dianut oleh Angkatan Muda Siliwangi yang
disebut dengan tiga Pegangan Hidup
Manusia Siliwangi yang dikenal dengan istilah Trisula AMS yaitu Shalat, Silat, Siliwangi sebagai
pegangan dasar dalam mengarungi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat, Shalat
artinya Iman yang mengandung makna melalui beribadah kita akan
mempertahankan iman dan taqwa kita kepada Yang Maha Kuasa. Shilat artinya Ilmu yang
mengandung makna kita harus mempunyai akal budi yang baik sehingga dapat
membedakan mana baik buruk dalam mengarungi kehidupan. Lalu Siliwangi
artinya Amal yang mengandung makna keberadaan manusia tidak akan
terlepas dari sesama manusia lainnya dalam kehidupan sosial sehingga kita harus
saling mengayomi antar sesama. Dengan demikian Shalat-Shilat-Siliwangi menggambarkan sikap dan sifat nilai
kesempurnaan yang meliputi segi-segi mendasar dari fitrah manusia sebagai
manusia social menuju kebahagiaan lahir dan batin.
Begitupun di HMI ada istilah nilai-nilaib
dasar perjuangan HMI dalam menapaki kehidupan organisasinya yaitu beriman, berilmu, beramal. Yang
mengandung makna yang mungkin apabila diuraikan tidak jauh berbeda dengan makna
yang terkandung dalam Trisula AMS.
Ketiga istilah yang ada di AMS dari falsafah kehidupan manusia Siliwangi dengan
nilai dasar perjuangan HMI membuktikan bahwa ada pemikiran dan pemahaman yang
sama dalam memandang kehidupan yang dicita-citakan yaitu berdaulat dan
berwibawanya Negara dan bangsa yang bias mengayomi rakyatnya sehingga tercipta
kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Ketiga landasan perjuangan HMI dan
falsapah kesiliwangian ini jika bisa difahami dan diimplementasikan dengan baik
dan benar, bukan hal yang tidak mungkin sosok “Budak Angon” yang dimaksud dalam “Uga Siliwangi” ataupun sosok “Satria Pininggit” yang ditulis dalam ramalan “Joyo Boyo” yang akan membawa kejayaan dan kemakmuran bagi Negara, Bangsa
dan Rakyatnya akan terlahir dari kader-kader HMI.
Komentar dan closing statement dari
saya sebagai pembaca buku, ini sangat menginspirasi saya sebagai orang sunda
tulen, juga sebagai aktifis dan organisatoris sarat dengan nilai dan ruh kesundaan
dan ruh dedikasi kepada sebuah organisasi yang itu jika kita hayati, maknai dan
lakukan tentu akan berbuah kepada jati diri kita yang tangguh, ulet,
berkarakter, memenuhi semua kualifikasi pemimpin. Yakin Usaha Sampai!
Comments
Post a Comment